Sedangkan Forum Multistakeholder CSR (FMHS-CSR) Kab. Kutai Timur adalah forum perusahaan – perusahaan yang ada di Kab. Kutai Timur yang tujuannya memberikan penilai terhadap proposal – proposal yang masuk dari masyarakat untuk mendapatkan bantuan dari comdev perusahaan. FMSH CSR menilai proposal dengan melihat tujuan dan rencana kegiatan dari proposal tersebut, proposal – proposal yang di nilai utnuk di ajukan perusahaan meliputi atau berkaitan dengan MDGs, pendidikan, lingkungan hidup, agribisnis, dan lokasi kerja/kegiatan dan yang menjadi perhatian juga apakah kegiatan dalam proposal itu pro lingkngan atau tidak.
Biro PKBL (Pola Kemitraan dan Bina Lingkungan) PT. Pupuk Kaltim Bontang, selaku perusahaan BUMN mempunyai komitmen untuk melakukan pembinaan terhadap usaha kecil masyarakat. komitmen dan bantuan yang di berikan oleh PT. Pupuk Kaltim dapat berupa pelatian – pelatihan teknis, manajerial, teknik produksi, pemasaran dan juga modal usaha.Dukungan tersebut di berikan dengan terlebih dahulu mengajukan proposal program dari koperasi, proposal ini harus sudah di terima oleh biro PKBL paling lambat bulan Juli 2008 untuk pelaksanaan program pada tahun 2009. Untuk pemasaran hasil produksi, pihak PKBL bersedia membantu, mencarikan pasar dan ada beberapa produk yang bisa langsung di pasarkan ke PKBL seperti rumput laut.Untuk memperoleh pembinaan dari Biro PKBL PT. Pupuk Kaltim harus sesuai dengan prsyaratan antara lain :
- Tidak pernah menjadi mitra binaan BUMN lain
- Tidak memiiki hutan pada bank atau pihak ketiga lainnya
- Telah melakukan RAT
- Ada surat kuasa/atau penunjukan dari pengurus koperasi
- Berbadan hukum dan ada surat keterangan usaha dari kepala desa
- Lokasi dan jenis usaha harus jelas
- Menyerahkan anggunan milik koperasi atau pengurus
- Jumlah pinjaman modal yang di berikan sesuai dengan jumlah nilai anggunan yang di jaminkan
Pendampingan pengembangan usaha masyarakat
Kegiatan pendampingan pengembangan usaha masyarakat di lakukan selama 14 hari mulai tanggal 13 – 26 Februari 2008 pada 5 (lima) kelompok di 4 desa.pada tahap ini kegiatan yang di lakukan adalah melakukan identifikasi permasalah – permasalahan yang timbul di kelompok dalam mengembangkan usahanya.
Kelompok Tani Pangkang Lestari (PARI) merupakan salah satu kelompok tani pelopor di Kutai Timur dalam upaya pelestarian sumberdaya alam, khususnya hutan mangrove. Upaya ini diwujudkan dalam kegiatan rehabilitasi hutan mangrove seluas + 12 ha di Dusun Teluk Lombok Desa Sangkima Kutai Timur, yang juga merupakan daerah asal kelompok ini. Aktiftias usaha kelompok Pari saat ini adalah pembibitan bakau yang hasilnya telah banyak di gunakan oleh dinas instansi pemerintah khususnya pelaksana kegiatan GNRHL/DAK DR, hasil dari pembibitan ini cukup menambah pendapatan anggota kelompok.Usaha lain yang saat ini sedang di laksanakan adalah budidaya rumput laut dan penggemukan kepiting bakau.Selain itu ibu-ibu anggota Pari juga membuat usaha krupuk dengan bahan baku kepiting atau biasa di sebut kerupuk kepiting. Krupuk kepiting saat ini telah mendapat nomor registrasi dai Balai POM. Kendala Usaha yang di hadapi saat ini adalah :1)Penggemukan kepiting tidak berjalan saat ini karena bibit bibit kepiting dari alam tidak tersedia sehingga untuk melakukan penggemukan kepiting ini perlu beli bibit dari luar. 2)Akibat dari penggemukan kepiring tidak berjalan, usaha ibu-ibu membuat kerupuk kepiting juga terhambat dari bahan baku berupa kepiting yang sulit di dapatkan. 3).Saat ini usaha krupuk kepiting hanya di buat jika ada pesanan dari pembeli. 4)Pemasaran produk krupuk kepiting masih di sekitar desa sangkima. 5)Untuk budidaya rumput laut saat ini masih terkendala tidak ada tempat penjemuran yang memadai .
Kelompok Gula Aren Mamiri (GAM) Desa Sangkima Lama, terbentuk pada bulan Agustus 2005. Kelompok yang beranggotakan 13 orang ini melakukan usaha pembuatan gula aren/gula merah. Sebelum tergabung dalam satu kelompok, para anggotanya melakukan usaha secara individu sejak tahun 1950-an. Dalam pemasaran produk, ada kesulitan-kesulitan yang sering dihadapi, antara lain adalah sarana dan prasarana transportasi yang kurang memadai, kondisi jalan yang rusak dengan jarak tempuh yang jauh (sekitar 4 km dari Desa Sangkima dan 13 km dari Sangatta) . Kondisi jalan yang rusak membuat akses pasar menjadi sulit. Apalagi jika kondisi hujan, kelompok kesulitan untuk menuju pasar, demikian pula pembeli/pedagang pengumpul kesulitan menuju lokasi produksi.
Kelompok Nyiur Melambai berada di desa Kandolo, saat ini beranggota 13 orang dan semua anggota memproduksi gula aren. Saat ini produksi gula aren dapat mencapai 1200 kg/bulan. Pemasaran produk gula aren masih di sekitar pasar sengata dan sangkima.Kendala yang di hadapi kelompok ini adalah kesulitan mencapi pasar karena kondisi jalan yang jelek dan jarak ke jalan utama dari rumah produksi sekitar 5 km. Selain itu produk gula aren nyiur melambai ini belum ada kemasan khusus. Pemasaran hasil produk di lakukan dengan cara pembeli datang langsung ke rumah produksi.Selain itu dari jumlah 13 anggota saat ini yang memiliki rumah produksi yang memadai hanya 8 anggota dan masih ada 5 anggota yang belum memiliki rumah produksi yang memadai.
Kelompok sumber rejeki adalah kelompok petani nelayan khususnya pencari udang laut, jumlah anggota kelompok saat ini 17 orang, dan di tambah dengan pokja ibu-ibu yang memproduksi krupuk udang.Kendala yang di hadapi saat ini :1). Saat ini kondisi cuaca tidak bisa menentu menyebabkan sebagain besar anggota tidak ada pergi ke laut. 2)usaha kerupuk udang yang di kelola oleh ibu – ibu sumber rejeki mengalami kendala pemasaran, yaitu kalah bersaing harga dengan krupuk – krupuk dengan jenis yang sama yang di produksi .3)Lokasi pasar yang susah di tempuh sejauh 5 Km dengan kondisi jalan yang rusak berat. 4) Harga tinggi karena biaya produksi juga tinggi sehingga perlu di carikan jalan keluarganya apakah pola produksi di ubah atau ada bahan yang di kurangi.5)Saat ini ibu-ibu tidak meproduksi krupuk udang karena bahan baku tidak ada, hanya mengerjakan pesanan- pesanan saja.
Kelompok Tani Kampung Doery (KT-KD) Secara administrasi berada di Desa Martadinata Kecamatan Teluk Pandan, Kutai Timur. Dengan jumlah anggota sebanyak 15 orang, saat ini KT-KD melakukan budidaya jahe. Pada tahap awal, dibuat demplot/plot percontohan budidaya seluas 0,25 ha, yang semua biayanya berasal dari swadaya kelompok. Untuk menambah penghasilan dan memanfaatkan lahan yang ada, di lahan penanaman jahe ini juga disertai tumpang sari dengan jagung manis.Kendala yang di hadapi saat ini : 1)permasalah yang di hadapi jika panen jahe gagal akibat cuaca hujan yang tidak menentu mengakibatkan bibit rusak dan harus membeli bibit baru. 2)Permasalahan lain adalah pemasaran, jika panen hingga 800 kilo per anggota mengakibatkan banyak jahe yang busuk dan tidak terjual karena tidak ada pemasaran. 3)Pokja ibu –ibu ingin memproduksi dodol salak, permasalahan yang di hadapi belum tahu bagaimana cara membuat dodol salak sehingga perlu di adakan pelatihan untuk pembuatan dodol salak