|
Beberapa tahun terakhir ini hampir tidak ada lagi petani dari desa Kepala Telake dan Muara Lambakan yang mau menanam rotan. Harga rotan yang rendah disertai permintaan pasar yang menurun membuat petani rotan kehilangan motivasi untuk menanam rotan. Jangankan untuk menanam, untuk memanennyapun para pemilik kebun rotan merasa enggan. Sehingga banyak tanaman rotan yang dibiarkan tua dan mati. Biasanya pada saat mulai berladang, sebelum ditanam padi, lahan yang belum dibakar terlebih dahulu ditanam biji rotan. Sehingga padi dan rotan dapat tumbuh secara bersamaan. Dengan demikian akan memudahkan pemeliharaan rotan itu sendiri. “Saat ini kami berhenti menanam rotan”, Kata pak Nasrun, ketua adat desa Kepala Telake saat kami melakukan sosialisasi program PeMA di desa Kepala Telake. “Menanam rotan hanya akan menjadi duri, tidak akan menjadi duit”. Rasanya tidak berlebihan apa yang beliau ungkapkan jika melihat kenyataan bahwa harga rotan memang teramat rendah jika dibandingkan dengan kenaikan harga bahan pokok yang semakin melambung. Jika satu hari kerja petani dapat memanen rotan rata-rata 3 tampik ukuran 3 meter. Dengan harga jual rotan lampit Rp 7.500/tampik, maka penghasilan petani hanya 3 X Rp 7.500 = Rp 22.500.
Faktor lain yang membuat lesunya produksi rotan adalah daya beli ditingkat pengumpul yang juga teramat rendah. ”Meski harga rotan murah jika pengumpul bersedia memberi uang muka, kami masih bersedia untuk mengambil rotan di hutan. Kalau tidak dikasih uang muka, apa yang kami pakai untuk biaya masuk hutan”, Kata salah seorang warga. Menurut pengumpul di desa, ia tidak bisa memberikan uang muka karena minimnya modal yang dimilikinya. Selain itu karena pengumpul di tingkat kecamatan sering menunggak pembayan kepada pengumpul di desa. Masih menurut pengumpul di desa, untuk mencari solusi terhadap masalah di atas, ia pernah menghubungi pengusaha yang ada di wilayah kabupaten paser. Pengusaha tersebut bersedia memberi harga lebih tinggi dari yang di berikan pengumpul kecamatan namun dengan syarat rotan harus tersedia di desa Perkuwen dengan jumlah kuota 50 ton/bulan. Syarat ini tentu saja tidak bisa disanggupi oleh pengumpul atau petani karena untuk mengantar rotan ke desa Perkuwen membutuhkan biaya transport yang cukup mahal. Mahalnya biaya transport bukan karena jarak tempuhnya yang 7 km. Tapi karena kondisi jalannya yang buruk terutama saat musim hujan. Untuk mencukupi kuota tentu harus mengerahkan banyak tenaga kerja untuk memanen rotan yang berarti membutuhkan banyak modal untuk menyediakan uang muka bagi para pemanen. Sedangkan pengumpul di desa tidak memiliki cukup modal untuk menyediakan uang muka. Begitu pula halnya dengan pengusaha lokal atau pengumpul di kecamatan. Pengumpul di desa pernah pula menghubungi pengusaha di Amuntai Kalimantan Selatan. Namun ternyata untuk mengangkut rotan ke Amuntai memerlukan biaya yang cukup tinggi. Selain karena kondisi jalan yang buruk juga karena kondisi jembatan yang tidak bisa dilalui mobil besar sehingga tidak bisa mengangkut rotan dalam jumlah besar.
|